About Me

My photo
Saya merupakan Pengedar Sah Shaklee seluruh Malaysia Perlukan maklumat lanjut? Dapatkan khidmat konsultansi PERCUMA dengan sms/whatsapp saya di talian 0168369414 atau emel mey.pulse@yahoo.com

I caught this as interesting..

Friday, July 30, 2010

Cara Mengempiskan Perut Boroi Ala Nihon TV

Meh jom kita try cara mengempiskan perut ala-ala awek jepun yang kawaii

Mudah jer...

Bahan-bahan yang diperlukan cuma:-
- Straw minuman
- Salotape

Cara-caranya :-

1. Sediakan straw minuman saiz biasa yang telah dibersihkan. (Kalau straw besar Mdm.Tale tak tau la pulak boleh ker tak. Cuba la sendiri. Kalau lebih efektif jgn lupa gitau Mdm. yek)

2. Potong 5 cm daripada straw tersebut untuk memendekkannya.

3. Ratakan hujung straw tersebut dengan menekannya. Jangan sampai patah yek.

4.Tutup separuh lubang straw tersebut menggunakan salotape.

5. Make sure hujung straw yang telah disalotapekan jadik macam ni.

6. Tarik nafas dalam-dalam dan tiuplah straw tersebut dengan kuat selama 5 saat.

Macam makcik2 ne

kusyuknya mereka meniup staw ne.. almaklumlah nak kempiskan perut..

Lakukan lah senaman ini selama 3 minit sehari. Ketika tengah duduk2 main Fb ker, ketika tengah sapu rumah ker.. Bila2 masa pun boleh. Yang penting...

Tarik nafas dalam2 dan tiup sekuat hati selama 5 saat!

Tgok makcik ne.. sambil vacum pun ble tiup straw.. buat keja rumah dgn tangan kan?.. bukan mulut.. :)

Amoi ne tgah buat keja pun ble tiup straw.

Beberapa orang telah melakukannya dan hasilnya berbeza-beza.. Tapi yang penting semua berhasil menurunkan saiz perut mereka

Menurut pakar saat kita bernafas, otot perut lebih digunakan ketika mengeluarkan nafas berbanding menarik nafas. Dengan menggunakan straw yang ditutup separuh kesan terhadap otot perut lebih berganda.. Tak percaya Cubalah!

Lihat perut ku.... Rampingkan!

JOM CUBA!

Wednesday, July 28, 2010

Please Don't Poison Yourself Accidently

When i read back the title of this post something giggles in my belly...

"Hmmm so u have to poison yourself according to plan la.. cannot make it accidentally ka?.. wakakaka" 'ada2 saja'

OK now serious.. serious..

I want to share something that maybe kita semua x pernah tau..

Dengan memakan Vitamin C


atau

dengan memakan udang kita boleh meracun diri sendiri..

maksudnya???

Jgn makan Vitamin C + Udang dalam masa yang sama.

Sebabnya?

It can kill u!

Let us read this true story:

Taiwan

A woman suddenly died unexpectedly with signs of bleeding from her ears, nose, mouth & eyes. After a preliminary autopsy it was diagnosed death due to arsenic poisoning death.
Where did the arsenic come from?
The police launched an in-depth and extensive investigation. A medical school professor was invited to come to solve the case.
The professor carefully looked at the contents from the deceased's stomach, in less than half an hour, the mystery was solved.
The professor said: 'The deceased did not commit suicide and neither was she murdered, she died of accidental death due to ignorance!'
??
Everyone was puzzled, why accidental death?
The professor said: 'The arsenic is produced in the stomach of the deceased.' The deceased used to take 'Vitamin C' everyday, which in itself is not a problem. The problem was that she ate a large portion of shrimp/prawn during dinner. Eating shrimp/prawn is not the problem that's why nothing happened to her family ever though they took the same shrimp/prawn. However at the same time the deceased also took 'vitamin C', that is where the problem is!
Researchers at the University of Chicago in the United States , found through experiments,
food such as soft-shell shrimp/prawn contains a much higher concentration of - five potassium arsenic compounds.
??
Such fresh food by itself has no toxic effects on the human body! However, in taking 'vitamin C', due to the chemical reaction, the original non-toxic - five potassium arsenic (As an hydride, also known as arsenic oxide, the chemical formula for As205) changed to a three potassium toxic arsenic (ADB arsenic an hydride), also known as arsenic trioxide, a chemical formula (As203), which is commonly known as arsenic to the public!
????
Arsenic poisoning have magma role and can cause paralysis to the small blood vessels, inhibits the activity of the liver and fat necrosis change Hepatic Lobules Centre, heart, liver, kidney, intestine congestion, epithelial cell necrosis, telangiectasia.
Therefore, a person who dies of arsenic poisoning will shows signs of bleeding from the ears, nose, mouth & eyes.

Therefore; as a precautionary measure,

DO NOT take shrimp/prawn when taking 'vitamin C.

After reading this please do not be selfish n keep info. Forward to your friends and family!!

Tuesday, July 27, 2010

Again with Nayzak Art


This Nayzak is soo creative.. goggle it again n saw his art about barber.

click to enjoy it

Come let's click n you'll never regret it..



Because He Is A Muslim


I got this from my cousin's blog. Miss Rang..

The cartoon character was sooo cute and adorable n the story yet so meaningful.

It's worth to click .. I really enjoy it..

Click to see it.

BECAUSE HE IS A MUSLIM

Bravo Nayzak

credit to nayzak.deviantart.com

Tulusnya kasihmu...


Utk Renungan Bersama...

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah,

"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti dia mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya
Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.

"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin , kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya

"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku",peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" "Umatku, umatku, umatku"

Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Amin....

Monday, July 26, 2010

Memahami konsep kenduri selepas kematian

1- Mukaddimah

Sudah menjadi adat resam yang lumrah kepada orang Melayu beragama Islam di tanah air kita apabila suatu kematian berlaku di dalam keluarga mereka, sudah tentu ahli keluarga si mati akan menyediakan makanan dan minuman.

Pada kebiasaannya selepas kematian, keluarga si mati memasak dan menyediakan nasi bungkus mengikut bilangan orang yang hadir sembahyang jenazah dan mengikut jumlah orang yang terlibat memberi pertolongan mentajhizkan mayat termasuk mereka yang menggali kubur dan sebagainya. Sebaik sahaja selesai sembahyang jenazah, nasi bungkus diedar dan dibahagi-bahagikan kepada setiap orang yang turun dari rumah selepas sembahyang.

Lepas kematian, di malam yang pertama hingga malam ketujuh diadakan majlis tahlil kepada ruh si mati, sesudah selesai tahlil, keluarga si mati menghidangkan makanan dan minuman kepada jiran dan para jamaah yang hadir sama ada jamuan ringan atau jamuan berat mengikut kemampuan masing-masing. Pada malam ketiga, malam ketujuh, malam ke empat puluh dan malam ke seratus, pada kebiasaannya dihidangkan jamuan nasi dengan aneka masakan gulai yang enak. Setiap malam Jumaat selepas hari ke tujuh hingga hari ke empat puluh atau kadang-kadang hingga hari ke seratus di adakan majlis tahlil, selepas tahlil di malam-malam berkenaan dihidangkan dengan pelbagai hidangan oleh ahli si mati.

Pendek kata bahawa menjamu makanan dan minuman selepas kematian sebagaimana dijelaskan sebentar tadi, menjadi tugas yang terpaksa dilakukan oleh ahli si mati, sama ada mereka dari orang kaya atau mereka yang kurang berada kalau tidak, nescaya akan dicela oleh jiran tetangganya atau sahabat handainya.

Bukan setakat dicemuh, malahan keluarga si mati yang tidak menurut resam turun temurun itu akan dipandang serong oleh masyarakat sekitar, bermacam-macam tuduhan dan tohmahan yang dilemparkan kepada ahli si mati yang tidak mengikuti tradisi itu, umpamanya dikatakan kedekut, bakhil, tidak mengenang jasa si mati dan dikatakan kepada keluarga yang tidak membuat kenduri kendara selepas kematian, seperti menanam batang pisang dan sebagainya.

Itulah antara ungkapan dan ujaran yang menggambarkan kejinya sesiapa yang meninggalkan tradisi yang tersebut itu.

Bahkan sebahagian besar dari kalangan umat Islam menganggapnya dari ajaran Islam yang penting tidak boleh diabaikan, kerana ianya turut dilakukan oleh orang yang ada pengetahuan agama, sama ada mereka lepasan dari pondok dan lepasan dari sekolah Arab agama. Mana-mana individu yang mengkritik adat resam itu nescaya akan dicop dan dilabelkan sebagai kaum muda yang hendak merosakkan ajaran Islam yang suci itu.

Walau bagaimanapun ada juga segolongan kecil umat Islam di negara kita berpendapat bahawa membuat dan menjamu makanan selepas kematian adalah perkara bid’ah yang perlu ditinggalkan, kerana tidak pemah dibuat oleh Nabi dan sahabatnya.


2- Kembali kepada Allah dan Rasul

Penyusun rasa terpanggil untuk mengikut serta dalam perbincangan masalah perselisihan yang tidak berkesudahan itu, semoga masyarakat kita dapat menilai khususnya alim ulamak dan bijak pandai Islam, siapakah yang sebenarnya berada di pihak yang hak dan siapakah pula berada di pihak yang kabur di dalam menentukan sikap terhadap masalah yang dinyatakan itu.

Ulamak silam telah membentang kepada kita umat kemudian mengenai hukum membuat dan menjamu makanan kepada orang ramai selepas berlaku kematian. Antara Hadith-Hadith yang membincangkan secara khusus mengenai perkara itu ialah :-

Yang Pertama:
Hadith yang sahih dikeluarkan oleh Abu Daud, A1-Tarmizhi dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Jafar, beliau berkata, “Apabila tiba berita kematian Ja’far (bin Abi Talib), Nabi bersabda:

Maksudnya : “Hendaklah kamu membuat makanan kepada ahli Ja’far (isteri dan anak-anaknya), sesungguhnya telah menimpa mereka perkara yang mengharukan”.

Dalam Hadith di atas, Rasulullah s.a.w. mengarahkan jiran tetangga yang tinggal berhampiran dengan keluarga si mati membuat makanan kepada mereka yang ditimpa musibah dukacita kematian. Ja’far bin Abi Talib mati syahid dalam peperangan Mu`tah pada tahun kelapan Hijrah, sebaik sahaja berita kematiannya sampai, Nabi menyuruh jiran tetangganya melakukan perkara itu kepada keluarganya supaya meringankan beban dukacita dengan memberi makanan kepada mereka.

Yang Kedua
Hadith Jarir bin Abdullah r.a, Maksudnya : “Kami mengira perhimpunan orang ramai kepada ahli si mati dan membuat makanan selepas pengkebumiannya adalah dari ratapan kematian”

Diriwayatkan oleh Ahmad b. Hanbal dan Ibnu Majah dengan isnad yang sahih.

Hadith di atas menunjukkan kepada kita, bahawa orang ramai yang berhimpun di rumah ahli si mati dan memakan makanan yang dimasak dan dihidangkan oleh ahli si mati adalah dari perbuatan ratapan. Ratapan selepas kematian adalah perbuatan jahiliah dan hukumnya haram, sebagaimana dimaklumi.

Kedua-dua buah Hadith yang dipaparkan itu adalah terdiri dari Hadith-Hadith sahih. Hadith sahih amat tinggi martabatnya di mana ia menjadi sumber hukum yang kedua selepas kitab suci Al-Quran. Perbincangan di kalangan Imam-Imam mujtahid dan ulamak-ulamak agung dari empat mazhab mengenai hukum menjamu makan selepas kematian adalah pada asalnya berdasarkan kepada dua Hadith berkenaan.

Betapa kuatnya sesuatu hukum yang bersandarkan kepada Hadith sahih, sehingga Imam Syafiiy pernah menegaskan mengenai perkara itu, maksudnya, “Apabila sahihnya Hadith, maka itulah mazhab aku, jika tidak sahih, hendaklah kamu campakkannya di belakang dinding”.


3- Pandangan Ulamak Mengenai Menjamu Makanan Dan Perhimpunan Selepas Kematian.

Di bawah ini diperturunkan pesanan ulamak besar lagi mujtahid :

3- 1 Imam A1-Syafiiy menegaskan dalam kitabnya (Al-Umm):

Maksudnya Aku suka jiran si mati atau orang yang mempunyai pertalian keluarga dengannya (keluarga jauh) memberikan makan kepada ahli mayat yang mengenyangkan mereka pada hari malamnya kerana itu adalah sunnah dan ingatan (zikir) yang mulia dan ianya perbuatan golongan yang baik-baik sebelum dan selepas kita, kerana apabila tiba berita kematian Jafar, Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Buatlah kamu makanan kepada keluarga Ja’far kerana telah menimpa mereka perkara yang mengharukan”.

Maksudnya: “Aku benci diadakan ma`tam iaitu perhimpunan, walaupun tidak ada tangisan kepada mereka, kerana sesungguhnya perbuatan itu memperbaharui dukacita dan membebankan makanan”.

3- 2 Kata Imam Nawawi dalam Kitab A1-Majmu :-

Telah berkata A1-Syafiiy dalam A1-Mukhtasar : “Aku suka kepada kaum kerabat si mati dan kepada jirannya membuat makanan kepada ahli mayat yang mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya, sesungguhnya ia adalah sunnah, dilakukan oleh golongan baik-baik. Kata Ashab kita (iaitu ulamak Fiqah Syafiiy) membuat pelawaan sungguh-sungguh supaya ahli mayat itu makan, walaupun mayat berada di negeri lain di sunatkan juga kepada jiran keluarga si mati membuat makanan untuk mereka”. (2)

3- 3 Mengikut Kitab Al-Fiqahi Ala A1-Madhahib A1-Arbaah:

Setengah daripada perbuatan bid’ah yang makruh apa yang dibuat oleh manusia sekarang ialah melakukan penyembelihan ketika turunnya mayat dari rumah, ataupun semasa mayat berada di kubur. Hukumnya bid’ah dan makruh menyediakan makanan kepada mereka yang berkumpul untuk memberi takziah, dihidangkan makanan untuk mereka seperti dilakukan (menjamu makanan) di majlis-majlis atau perayaan kerana kegembiraan.

Jika memberi makan kepada orang ramai selepas suatu kematian sedangkan pewaris itu belum cukup umur, maka hukumnya haram. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Jarir bin Abdullah beliau berkata : “Kami mengira perhimpunan orang ramai kepada ahli si mati dan membuat makanan selepas pengkebumiannya adalah dari ratapan kematian”. (3)

3-4 Syaikh A1-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata:

“Manakala ahli si mati membuat makanan dan memanggil orang ramai supaya memakannya, bahawa perbuatan ini tidak disyarakkan bahkan ia bid’ah berdasarkan kepada Hadith Jarir bin Abdullah kami mengira perhimpunan orang ramai kepada ahli si mati dan mereka memasak makanan untuk dijamu orang ramai adalah dari ratapan jahiliyyah” (4)

3- 5 Didalam Kitab Fiqh Al-Sunnah menyebut:

Di sunatkan membuat makanan kepada ahli si mati, kerana ianya dari perkara kebajikan dan taqarrub kepada Allah dari jiran tetangga dan dari kaum kerabat (yang jauh). Imam Syafiiy berkata:

Aku suka kaum kerabat si mati membuat dan memberi makan kepada ahli mayat yang boleh mengenyangkan mereka untuk hari dan malamnya, kerana ia adalah sunnah dan perbuatan golongan yang baik-baik.

Ulamak mengatakan sunat mempelawa sungguh-sungguh supaya ahli mayat memakan makanan yang diberikan itu supaya mereka tidak menjadi lemah lantaran tidak menjamah makanan di sebabkan terlampau terkejut dengan peristiwa kematian atau dengan sebab segan.

Imam-imam mazhab telah bersepakat kata bahawa hukumnya makruh ahli si mati membuat makanan untuk dijamu kepada orang ramai yang berkumpul kepada keluarga si mati. Kerana perbuatan itu menambahkan lagi musibah ke atas mereka dan memperbanyakkan lagi kesibukan di atas kesibukan mereka yang sediakan ada dan perbuatan itu tak ubah seperti kelakuan golongan jahiliyyah. Hujah ini berdasarkan Hadith Jarir bin Abdullah: “Kami mengira perhimpunan orang ramai kepada ahli si mati dan membuat makanan selepas pengkebumiannya adalah dari ratapan kematian”

Setengah ulamak mengatakan hukumnya haram ahli si mati membuat makanan untuk dijamu kepada orang ramai. (5)

3- 6 Di dalam Kitab Hukmu Al-Quran Lil Amwat menyebut:

Antara bid’ah yang diharamkan ialah ahli si mati menjamu makanan kepada orang yang memberikan takziah atau memberikan makan kepada fakir miskin selepas mengiring jenazah, pada hari Khamis, pada hari ketiga, pada hari keempat puluh dan tahunan. Tetapi yang sunnahnya sahabat handai dan jiran tetangga memberikan makanan kepada ahli si mati kerana Hadith Nabi bersabda: “Hendaklah kamu memberikan makanan kepada ahli Ja’far, sesungguhnya telah menimpa mereka perkara yang mengharukan”. Diriwayatkan oleh Tarmidhi dan selainnya dengan sanad yang sahih. (6)

3- 7 Di dalam Kitab Ahkam A1-Janaiz Wa Bidaiha menyebut antara bid`ah ialah:

(i) Ahli si mati menerima tetamu dengan memberikan makan kepada mereka.
(ii) Hukumnya bid’ah apabila menerima jemputan bagi jamuan makanan daripada ahli si mati. (7)


4- Sunat Membuat Makanan Untuk Ahli Si Mati - Pendapat Empat Mazhab

Selepas kita mengikuti perbincangan ulamak mujtahidin mengenai membuat dan menjamu makanan selepas kematian atau dengan lain perkataan, membuat kenduri dan jamuan makan selepas kematian. Difahamkan dari ulasan dan penerangan itu amat berbeza sekali apa yang diamalkan oleh kebanyakan masyarakat Islam kita pada hari ini, di mana amalan mereka membuat kenduri dan jamuan makan selepas kematian bercanggah dengan sunnah Nabi dan sunnah sahabat dan bertentangan dengan fatwa-fatwa ulamak. Kerana masalah ini sangat menebal di amalkan dalam masyarakat Islam Melayu kita penyusun merasai mustahak membentangkan pula kepada pembaca pendapat Fuqahaa dari empat mazhab sebagaimana berikut :-

4-. 1 Mazhab Maliki
Disunatkan kepada jiran dan seumpamanya menyediakan makanan kepada keluarga si mati kerana kesibukan mereka terhadap kematian.

4- 2 Mazhab Hanafi
Disunatkan kepada jiran keluarga si mati dan kaum kerabatnya yang jauh menyediakan makanan untuk keluarga si mati yang mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya, kerana sabda Nabi s.a.w: “Hendaklah kamu membuat makanan kepada keluarga Jafar, sesungguhnya telah menimpa mereka perkara yang mnegharukan”. Kerana memberi makan itu perkara kebaikan dan maruf, dipelawa sungguh-sungguh kepada mereka supaya mereka makan, kerana kesedihan menghalang mereka dari makan makanan dan menyebabkan mereka menjadi lemah.

4- 3 Mazhab Hanbali
Disunatkan membuat makanan untuk ahli si mati, dihantar makanan itu kepada mereka kerana memberi pertolongan dan melembutkan hati mereka. Boleh jadi mereka sibuk dengan ujian bala yang diterima dan sibuk dengan kunjungan orang ramai yang datang menemui mereka, menyebabkan tidak dapat menyediakan makanan untuk diri mereka sendiri. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin Ja.far, beliau berkata apabila tiba berita kematian Ja’far (bin Abu Talib), Rasulullah s.a.w. bersabda hendaklah kamu membuat makanan kepada keluarga Ja’far, sesungguhnya telah menimpa mereka perkara yang mengharukan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Bakar beliau berkata: “Sentiasa Sunnah Nabi itu menjadi ikutan kami (sahabat Nabi) sehingga ditinggalkan oleh manusia yang meninggalkannya (yakni sehingga sunnah ini ditinggalkan dan tidak di amalkan oleh kebanyakan orang).

4- 4 Mazhab Syafiiy
Sebagaimana disebut dalam kitab A1-Muhazzab oleh A1-Syairazi (8):

Disunatkan kepada kaum kerabat si mati dan jirannya membuat makanan kepada ahli si mati (suami / isteri dan anak-anaknya), kerana diriwayatkan apabila Jafar bin Abu Talib terbunuh, Nabi bersabda, “hendaklah kamu membuat makanan kepada keluarga Ja’far, sesungguhnya telah menimpa mereka perkara yang mengharukan”.

Imam Nawawi menyebut di dalam kitab A1-Majmu syarahan kepada kitab al-Muhazzab Imam Syafiiy berkata di dalam kitab A1- Mukhtasar, “Aku suka kepada kaum kerabat si mati danj irannya membuat makanan untuk ahli si mati yang mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya, sesungguhnya perbuatan itu sunnah dan dilakukan oleh golongan baik-baik.”

Telah berkata Ashab kita (ulamak Fiqah Syafiiy):

“Dipelawakan sungguh-sungguh kepada mereka (keluarga si mati) supaya mereka makan. Walau mayat itu berada di negeri lain sekalipun di sunnat juga kepada jiran tetangga keluarga si mati membuat makanan untuk mereka.”

Setelah kita mengikuti pendapat ulamak di dalam empat mazhab mengenai membuat dan menyediakan makanan ataujamuan selepas kematian, kita dapati semua mazhab telah bersepakat kata bahawa hukumnya sunat bagi jiran tetangga dan bagi kaum kerabat yang jauh kepada si mati membuat makanan kepada keluarga si mati, bukannya keluarga si mati yang memasak makanan dan menjamu jiran dan orang ramai apabila suatu kematian berlaku seperti diamalkan oleh kebanyakkan masyarakat kita pada hari ini.


5- Hukumnya Makruh Ahli Si Mati Membuat Makanan Untuk Di Jamu Kepada Orang Ramai- Pendapat Empat Mazhab.

Sebagaimana penyusun katakan bahawa adat resam ini menjadi ikutan yang setia oleh sebahagian besar masyarakat Islam di negara kita dan yang paling mendukacitakan ada setengah bijak pandai Islam mempertahankan habis-habisan tradisi turun temurun ini tanpa berpegang kepada dalil-dalil dan hujjah yang kukuh. Oleh itu penyusun fikir ada baiknya di bentangkan dahulu nas atau teks asal dalam bahasa Arab oleh ulamak dari empat mazhab kemudian diiringi dengan maksudnya di dalam bahasa Melayu.

5- 1 Pendapat Mazhab Maliki
Maksudnya: Perhimpunan orang ramai pada makanan di rumah si mati adalah bid’ah yang makruh tidak ada sandaran riwayat yang boleh di pegang sedikit pun, dan itu bukan tempat kenduri jamuan makan. (9)

Pendapat ulamak dalam Mazhab Maliki itu jelas menunjukkan bahawa segala perhimpunan atau keramaian kenduri makan yang diadakan di rumah si mati selepas kematiannya adalah bid’ah lagi makruh kerana keadaan ketika itu tidak layak diadakan majlis jamuan.

5- 2 Pendapat Mazhab Syafiiy
(a) Sebagaimana di sebut dalam kitab A1-Majmu oleh Imam Nawawi:

Maksudnya: Jika ahli si mati membuat makanan untuk orang ramai dan menghimpunkan mereka kepada makanan itu ianya tidak ada sandaran riwayat yang boleh dipegang sedikitpun, dan perbuatan itu bid’ah yang tidak di sunatkan. Berdalil dengan Hadith Jarir bin Abdullah r.a . Kami mengira perhimpunan kepada ahli si mati dan membuat makanan selepas pengkebumiannya adalah dari ratapan kematian (10)

(b) Di dalam Kitab Fiqah Syafiiy yang lain pula menyebut:

Kesibukan ahli si mati (isteri / suami dan anak-anaknya) dengan memasak makanan (selepas kematian) dan menghimpun orang ramai untuk diberikan jamuan kepada mereka sebagaimana menjadi suatu kebiasaan di zaman sekarang, sebenarnya perbuatan itu bid’ah bertentangan dengan sunnah (ikutan Nabi dan sahabat) dan bercanggah dengannya percanggahannya yang berat, tetapi yang sunnahnya ialah sebaliknya (jiran atau keluarga yang jauh atau sahabat handai yang memberikan makan kepada keluarga si mati).

Setengah dari perkara bid’ah yang dilakukan oleh ahli si mati ialah menghimpunkan orang ramai dengan memberi jamuan kepada mereka sempena dengan berlalunya tempoh empat puluh hari lepas kematian dan seumpamanya (seperti tiga hari, tujuh hari, dua puluh hari dan sebagainya). Jika perbelanjaan nafkah makanan tersebut itu dari harta penerima pusaka yang belum cukup umur, maka hukum haramnya perbuatan itu adalah sangat berat, kerana memakan harta anak yatim dan menghabiskan hartanya bukan untuk faedah kebajikkannya. Orang yang mengajak kepada makanan itu dengan orang yang memakannya adalah sama-sama berkongsi melakukan perkara yang diharamkan. (11)

(c) Hasyiah Iaanah A1-Talibin Syarah kepada Kitab Fiqah Fathu Al-Muiin- merupakan Kitab Fiqah Mazhab Syafiiy yang penting - ada menyebut antaranya:

Hukumnya makruh ahli si mati duduk menunggu untuk menerima takziah dan makruh membuat makanan serta menghimpun orang ramai bagi menjamu mereka (kerana berpegang kepada hadith) yang di riwayatkan oleh Ahmad dari Jarir bin Abdullah r.a. beliau berkata kami mengira perhimpunan orang ramai kepada ahli si mati dan membuat makanan selepas pengkebumiannya adalah dari ratapan kematian.

Apa yang dilakukan oleh orang ramai dengan berkumpul di rumah ahli si mati dan membuat makanan adalah dari perbuatan bid’ah yang mungkar yang mana diberi pahala kepada pihak penguasa yang mencegah perbuatan itu.

Dijadikan adat kebiasaan ahli si mati membuat makanan untuk menjemput orang ramai bagi menikmati makanan yang di masak. Perbuatan itu adalah bid’ah lagi makruh, seperti juga hukumnya bid`ah lagi makruh kepada orang yang menerima panggilan itu.

Setengah dari bid’ah yang menukar, makruh dilakukan, seperti apa yang dibuat oleh manusia daripada wahsyah (berkumpul serta memberikan makan kepada orang ramai), menghimpun orang ramai dan mengadakan sambutan majlis kenduri makan sempena empat puluh hari kematian. Bahkan semua itu menjadi haram jika perbelanjaan berkenaan dari harta mahjur (belum baligh, gila dan sebagainya) atau dari harta si mati yang mempunyai bebanan hutang ke atasnya atau jika timbul pelbagai kemudaratan dan sebagainya.

Rasullullah s.a.w. berkata kepada Bilal bin A1- Harthi

Wahai Bilal siapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku yang dimatikan selepas ku ini dia akan mendapat pahala seperti orang yang beramal dengannya tanpa kurang sedikitpun pahala mereka itu, dan siapa merekaciptakan suatu bid`ah yang sesat tidak diredai Allah dan Rasulnya dia akan mendapat dosa seperti orang yang melakukannya tanpa sedikitpun kurang dari dosa mereka itu.

Tiada keraguan lagi bahawa mencegah manusia dari melakukan perkara bid’ah yang mungkar itu bererti menghidupkan sunnah Rasul dan mematikan bid’ah serta membuka lebih banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu-pintu keburukan.

Makruh ahli si mati menerima tetamu dengan menjamu makanan kepada mereka dan ianya bid’ah kerana memberikan makan kepada tetamu itu disyarakkan pada masa gembira sahaja. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan Isnad yang sahih dari Jarir bin Abdullah. Beliau berkata, “Kami mengira perhimpunan kepada ahli si mati dan mereka membuat makanan adalah dari perbuatan ratapan kematian” (12)

5-3 Mazhab Hanbali
Jika ahli si mati membuat makanan untuk dijamu kepada orang ramai, maka hukumnya makruh, kerana perbuatan itu menambahkan lagi ke atas musibah mereka dan menambahkan lagi kesibukan ke atas kesibukan mereka yang sedia ada, dan kelakuan itu seperti perbuatan golongan jahiliah. (13)

Di dalam Mazhab Hanbali ada pengecualiannya, iaitu jika terpaksa keluarga si mati membuat makanan kepada orang ramai, maka hukumnya harus. Umpamanya memberi makan kepada orang yang hadir menziarahi mayat, mereka itu datang dari tempat-tempat dan perkampungan yang jauh dan mereka bermalam di rumah keluarga si mati dan terpaksa menerima mereka sebagai tetamu. (14)

5-4 Mazhab Hanafi
Hukumnya makruh keluarga si mati menerima tetamu dengan memberi makan kepada mereka, kerana yang demikian itu disyarakkan hanya di waktu kebahagiaan bukan dalam waktu kesedihan (seperti selepas kematian), ianya adalah bid,ah yang keji, diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah dengan Isnad yang sahih dari Jarir bin Abdullah, beliau berkata:

“Kami mengira perhimpunan kepada keluarga si mati dan mereka membuat makanan (untuk dijamu kepada orang yang berhimpun itu) adalah dari ratapan kematian.” (15)


6- Hujah Dari Kitab-Kitab Jawi

Selepas pembentangan pendapat ulamak dari empat mazhab yang berasal dari bahasa Arab, penyusun akan membentang pula pendapat ulama kita dalam mazhab Shafiiy yang ditulis dalam bahasa Melayu lama melalui tulisan jawi. Ulamak besar yang berkemampuan tinggi di dalam agama dan bahasa Arab ini banyak mengarang kitab-kitab agama dalam bahasa Melayu dalam tulisan jawi. Kebanyakan kitab-kitab karangan mereka menjadi rujukan utama kepada penuntut-penuntut di madrasah-madrasah pondok di zaman dahulu dan sekarang.

6-1 Kitab Furuu A1-Masaail

Antara lain yang dijelaskan di dalam kitab ini ialah seperti berikut:

(i) Hukumnya makruh dan dicela oleh syarak amalan yang dibuat oleh orang ramai apa yang dinamakan kaffarah dan wahsyah ( ) (16), iaitu berkumpul dan berhimpun serta memberi makan kepada orang ramai pada malam pertama selepas dikebumikan mayat, berhimpun dan memberi makan pada tujuh hari, dua puluh hari, empat puluh hari dan sebagainya.
(ii) Amalan seperti itu tidak sah wasiatnya

Teks atau nas asalnya berbunyi
“Dan demikian lagi yang dikerjakan manusia dengan barang yang dinamakan ia dengan kaffarah dan daripada dikerjakan wahsyah yakni berhimpun memberi makan awal malam kemudian daripada ditanam mayat dan tujuh harinya dan dua puluh harinya dan ernpat puluh harinya dan umpama yang demikian itu haramkah? atau makruh? atau harus? (maka dijawabnya) maka adalah segala yang tersebut makruh yang dicela pada syarak, kerana tegah pada syarak. Kata Syeikh Ibnu Hajar, “Tiada sah wasiatnya” (17)

6- 2 Kitab Sabil A1-Muhtadi

Ringkasan yang difahami dari kitab ini ialah:
(i) Hukumnya bid’ah dan rnakruh jika dibuat kenduri makan selepas kematian dan dijemput orang ramai supaya memakan makanan itu, sama ada jamuan itu diberi sebelum mayat dikebumikan atau selepas dikebumikan..
(ii) Hukumnya juga makruh dan bid’ah kepada sesiapa yang menerima jemputan itu dan menghadirinya.

Teks asalnya berbunyi:
“Dan makruh lagi bid’ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya manusia atas memakan dia dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya seperti yang telah teradat dan demikian lagi makruh lagi bid’ah bagi segala mereka yang diserunya perkenankan seruan”. (18)

6- 3 Kitab Kasyfu A1-Litham

Ringkasan yang difahami dari kitab ini ialah:
(i) Hukumnya makruh dan dicela oleh syarak bila keluarga si mati memberi makan kepada orang ramai sebelum atau selepas dikebumikan mayat.
(ii) Hukumnya makruh dan dicela oleh syarak membuat penyembelihan di kubur.
(iii) Hukumnya makruh dan dicela oleh syarak apa yang dinamakan kaffarah dan wahsyah iaitu berhimpun dan berkumpul dengan memberi makan kepada orang ramai di malam pertama selepas pengebumian mayat, tujuh hari, dua puluh hari, empat puluh hari dan sebagainya seperti yang telah dijelaskan.

Teks asalnya berbunyi:
“Barang dikerjakan oleh ahli mayat daripada mempersembahkan makanan dan perhimpunan manusia atas dahulu daripada tanam mayat dan kemudian daripadanya dan menyembelih pada kubur dan demikian lagi yang dikerjakan oleh manusia dengan barang yang dinamakan dengan kaffarah dan daripada dikerjakan wahsyah yakni berhimpun memberi makan awal malam kemudian daripada ditanam mayat dan tujuh hari dan dua puluh hari dan empat puluh hari dan umpamanya yang demikian itu yang dibuat oleh kebanyakan orang itu maka adalah segala yang tersebut itu makruh yang dicela oleh syarak kerana tegah pada syarak.” (19)

6-4 Kitab Bughyatu A1-Tullab.

Ringkasan yang dipetik dari kitab ini antara lain ialah:
(i) Hukumnya sunat kepada jiran keluarga si mati kepada kawan kenalan keluarga si mati, kepada kaum kerabat yang jauhnya membuat dan membawa makanan kepada keluarga si mati yang boleh mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya.
(ii) Hukumnya makruh dan bid’ah jika ahli si mati membuat makanan dan menjemput orang ramai supaya memakannya, sama ada sebelum pengebumian mayat atau selepas pengebumiannya.
(iii) Hukumnya bid’ah yang buruk lagi makruh yang diamalkan oleh orang ramai apa yang dinamakan kaffarah dan wahsyah iaitu berhimpun dengan memberi makan kepada orang ramai selepas pengebumian mayat, tujuh hari, empat puluh hari dan seumpamanya, seperti yang telah dinyatakan.
(iv) Asal sunat memberi makan ialah memberi makan kepada ahli si mati bukan keluarga si mati menjamu makan kepada orang lain, kerana sabda Nabi s.a.w . “Buatlah kamu rnakanan kepada keluarga Ja’far. Sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang mengharukan mereka”. Sabda Nabi s.a.w itu diucapkan sebaik sahaja sampai berita mengenai kematian Ja’far bin Abu Talib terbunuh dan mati syahid di dalam peperangan Mu`tah.

Teks atau nas asalnya berbunyi, “Dan sunat bagi jiran keluarga mayat dan orang yang kenal dengan keluarganya jikalau bukan jirannya sekalipun dan segala kerabatnya yang jauh membawa makanan kepada orang yang kematian yang mengenyangkan mereka itu pada hari dan malamnya menyungguh-nyungguh akan mereka itu suruh memakan kerana mereka itu terkadang meninggal akan memakan sebab sangat terkejut hati mereka itu dan tiada mengapa sungguh-sungguh menyuruh.”

Dan makruh lagi bid’ah bagi orang yang kematian membuat makanan dan menyeru segala manusia supaya memakannya sama ada dahulu daripada mengebumikan mayat atau kemudian daripadanya seperti yang telah diadatkan kebiasaan manusia.

Demikian lagi makruh lagi bid’ah bagi segala orang yang diserukan dia memperkenankan seruannya.

Dan setengah daripada yang qabihah lagi makruh mengerjakan dia barang yang di kerjakan kebiasaan manusia barang dinamakan dengan kaffarah dan wahsyah dan tujuh hari dan empat puluh dan umpama yang demikian itu.

Ada pun asal sunat menyediakan makanan itu pada barang yang dahulunya sabda Nabi s.a.w. tatkala datang khabar kematian Sayyidina Ja’far bin Abu Talib pada perang Mutah perbuat olehmu bagi keluarga Ja’far makanan maka sesungguhnya telah datang akan mereka itu barang yang membimbangkan mereka itu. (20)

6- 5 Kitab Bahru A1-Madzi

Maksudnya antara lain seperti:
(i) Keluarga si mati memasak makanan dan menghimpun orang ramai dan menjamu mereka makanan itu tidak ada sedikit pun sandaran riwayat yang boleh di pegang dan diikuti dari Nabi s.a.w dan dari sahabatnya.
(ii) Hukumnya bid’ah dan makruh jika keluarga si mati memasak dan mengumpulkan orang ramai dan menjamu mereka, kerana berpandukan Hadith Jarir bin Abdullah katanya, “Kami rnengira perhimpunan orang ramai kepada keluarga si mati dan mereka (keluarga) membuat makanan selepas pengebumian mayat adalah daripada perbuatan ratapan kematian”.
(iii) Yang sunnah dan sunat ialah kaum kerabat si mati yang jauh, jiran tetangga dan sahabat handainya memasak dan menjamu kepada ahli atau keluarga si mati sekadar mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya. (21)


7 -Kesimpulan

7- 1 Adat kebiasaan orang Islam di Nusantara khususnya masyarakat Melayu di tanah air kita menjemput, mengumpul orang ramai dan memberi makan kepada mereka oleh keluarga si mati sama ada mayat sebelum atau selepas dikebumikan adalah bertentangan dengan sunnah Nabi s.a.w dan sahabatnya.

7- 2 Mengumpul dan menjamu makanan kepada orang ramai menjadi agenda utama kepada ahli si mati apabila suatu kematian berlaku, padahal perbuatan itu adalah bid’ah dan makruh yang perlu dihapuskan oleh semua pihak.

7- 3 Telah bersepakat kata oleh Imam-Imam mazhab empat dan kibar al-ulamak (ulamak agung) tentang makruhnya ahli si mati menghimpun dan menjamu manusia selepas kematian. Yang paling ramai mengatakan demikian ialah ulamak dari mazhab Syafiiy.

7- 4 Hukumnya sunat kepada jiran ahli si mati, kepada kawan kenalan keluarga si mati, kepada kaum kerabat yang jauh membuat dan membawa makanan kepada ahli si mati yang boleh mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya. Itulah sunnah yang perlu diikuti oleh semua umat Islam.

7- 5 Hukumnya makruh dicela oleh syarak adat yang diamalkan oleh umat Islam iaitu menghimpun orang ramai dan diberi makan kepada mereka pada malam pertama selepas dikebumikan mayat, tujuh hari, dua puluh hari, empat puluh hari dan seumpamanya. Perbuatan itu dinamakan wahsyah dan kaffarah.

7- 6 Orang ramai berkumpul di sisi keluarga si mati selepas kematian berlaku dan ahli si mati membuat makanan dan menjamu mereka, perbuatan itu bid’ah yang mungkar dan diberi pahala kepada pihak penguasa dan kepada sesiapa yang mencegahnya.

7- 7 Hukumnya bid’ah dan makruh bukan hanya kepada ahli si mati yang memasak, menghimpun dan menjamu makanan kepada orang ramai sahaja, tetapi juga bid`ah makruh itu kena kepada siapa sahaja yang menerima panggilan itu.

7- 8 Mencegah masyarakat dari melakukan bid’ah yang mungkar itu bererti menghidupkan sunnah, manakala membiarkan mereka terus beramal dengannya bererti mematikan sunnah dan sekaligus menyuburkan bid’ah.

7- 9 Jika perbelanjaan makanan yang dijamu itu dari harta yang belum baligh, harta orang mahjur (iaitu orang yang tidak dibenarkan oleh syarak untuk menguruskan hartanya) dan dari harta si mati yang menanggung bebanan hutang, maka hukumnya ialah kongsi bersama antara yang memanggil dengan orang yang memakan pada melakukan yang haram.

7- lO Hukum makruh keluarga si mati menerima tetamu serta menjamu makanan kepada mereka. Kecuali tetamu itu datang dari tempat yang jauh terpaksa bermalam di rumah ahli si mati itu.


8 - Pelbagai Alasan Dan Hujah Ditunjulkan Oleh Barisan Yang Mempertahankan Pusaka Adat Yang Bid’ah Ini. Antara Lain Ialah:

8- l Orang yang membangkitkan isu bid’ah dan makruh ahli si mati menghimpun orang ramai, memasak dan menjamu makanan kepada mereka adalah terdiri dari ulamak kaum muda. Setengahnya pula mengatakan dari pengikut Wahabi.

Kita merasa aneh dan hairan apabila dituduh dan dicop kaum muda ke atas orang yang menyebarkan pendapat-.pendapat kibar ulamak silam yang mulia, termasuk ulamak mujtahid dari empat mazhab. Kita mengatakan bid’ah kerana mereka itu mengisytiharkan bid’ah berdasarkan dalil-dalil yang amat kukuh. Rata-rata ulamak yang mulia itu mengemukakan dua buah Hadith sahih yang telah dibentangkan di permulaan risalah ini sebagai dalil yang utama. Mana lagi ada hujah yang lebih kuat dari Hadith sahih?. Apakah akibatnya jika seorang itu menolak Hadith sahih?. Ulamak yang mengatakan demikian bukan sebarangan, tetapi mereka itu terdiri dari Imam-Imam mazhab dan ulamak agung seperti Imam Syairazi, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qudamah, A1-Sayyid Abu Bakr bin Al-Sayyid Muhammad, A1-Syaikh Daud A1-Fataniy, Al-Shaikh Muhammad A1-Banjariy dan sehingga tidak terbilang ramainya. Kalau dibandingkan ilmu dan kemampuan mereka dengan bijak pandai agama masa kini nescaya didapati jaraknya beribu batu. Siapa sebenarnya yang didakwa sebagai kaum muda?. Adakah mereka yang mempertahankan pendapat ulamak tersebut? Atau kaum muda yang sebenar ialah mereka yang mempertahankan adat istiadat itu dan membelakangkan pendapat ulamak berkenaan tanpa berlandaskan hujah yang benar dan kukuh.

Sesungguhnya ulamak yang menghukumkan bid’ah dan makruh dalam masalah tersebut adalah terdiri dari ulama lampau yang sudah lama meninggal dunia, tetapi yang masih ada di tangan generasi sekarang hanya karya dan kitab-kitab karangan mereka sahaja yang menjadi bahan rujukan dan kajian. Oleh itu tidak masuk akal kalau dilabelkan mereka kaum muda.

Manakala tuduhan yang mengatakan kononnya golongan yang membangkitkan isu ini adalah mereka dari fahaman Wahbiy. Tuduhan itu tidak benar malahan keterlaluan, kerana yang mengatakan bid’ah dan makruh ahli si mati menghimpun, membuat dan menjamu makanan kepada orang ramai selepas kematian sama ada sebelum atau selepas dikebumikan ialah Imam-Imam mazhab, bahkan yang paling ramai menghukum begitu ialah ulamak mazhab Syafiiy sendiri. Tiada seorang pun pendapat dari fahaman Wabiy dicatat dalam risalah kecil ini. Kita ingin bertanya mazhab apakah dipegang oleh golongan yang masih sayang kepada adat istiadat itu?. Tidakkah lima buah kitab jawi mazhab Syafiiy yang dibentangkan semuanya mengatakan bid’ah dan makruh?.

8- 2 Apakah salahnya memberi makan oleh si mati kepada orang ramai bersama majlis tahlil dan doa kepada ruh si mati kerana perhimpunan memberi makan bukan menjadi tujuan utama bahkan ianya sebagai sampingan sahaja, matlamat utamanya ialah tahlil dan doa kepada ruh si mati. Kalau tidak diberi makan nescaya orang ramai tidak akan hadir ke majlis tahlil itu.

Jawapannya:
Yang sunnahnya jiran, kaum kerabat yang jauh dan sahabat handai memberi makan kepada ahli si mati. Jika ahli si mati memberi makan kepada orang ramai hukumnya tetap bid’ah dan makruh walaupun ada bersama majlis tahlil dan doa kepada si mati. Mengenai orang ramai tidak hadir ke majlis tahlil kalau tidak diberi makan kepada mereka tidak timbul sama sekali, yang bid’ah itu bid’ahlah ia walau berbagai helah dibuat, kerana matlamat tidak menghalalkan dengan cara.

Jalan yang paling selamat dalam hal ini hendaklah kita ikut pesanan Imam Syafiiy. Katanya, “Aku benci diadakan ma`tam iaitu perhimpunan, walaupun tidak ada tangisan untuk mereka, keraña sesungguhnya perbuatan itu memperbaharui duka cita dan membebankan penyediaan makanan”. Sehubungan dengan itu dijelaskan lagi di dalam Kitab Fiqah Syafiiy katanya, “Apa yang dilakukan oleh orang ramai dengan berkumpul di rumah ahli si mati dan mem6uat makanan (oleh keluarga si mati) bahawa kelakuan itu dari kerja bid’ah yang mungkar... (22)

8-3 Setengah masyarakat kita pula apabila berlaku kematian, keluarga si mati tidak memasak sendiri makanan itu, tetapi ditugaskan kepada orang lain membeli bahan-bahan makanan dan memasak atau kadang-kadang dimasak di rumah jiran yang berhampiran. Setelah siap dimasak, dibawa makanan itu ke rumah si mati untuk dijamu kepada orang ramai.

Jawapannya:
Perbuatan itu hanya helah semata-mata untuk melarikan diri dari dikatakan ahli si mati yang memasak dan menjamu orang ramai ianya membawa kepada bid’ah dan makruh. Walaupun ahli si mati tidak memasak sendiri, tetapi segala perbelanjaan masih tertanggung ke atasnya dan segala urusan di bawah arahannya, maka amalan itu tidak terlepas dari kerja bid’ah dan makruh. Begitu juga jika dimasak makanan itu di rumah jiran yang berhampiran dan dibawa makanan itu ke rumah ahli si mati untuk dijamu kepada orang ramai. Kenapakah diadakan pelbagai helah muslihat bagi mengharuskan perkara bid’ah itu? Alangkah baiknya jika digunakan perbelanjaan makanan itu ke tempat yang dijamin mendapat pahala dan bukannya di tempat yang bercanggah dengan Hadith Nabi s.a.w.

Bukan semua perkara kebaikan boleh dilakukan dengan sewenang-wenangnya di dalam semua keadaan. Begitulah juga halnya jika memberi makan kepada orang ramai dengan niat ikhlas ianya dari kerja kebajikan dan amal soleh, tetapi jika ahli si mati menghimpun orang ramai, memasak dan menjamu mereka selepas kematian, sama ada sebelum atau selepas dikebumikan mayat, hukumnya bukan lagi sunat bahkan menjadi bid’ah dan makruh yang perlu dielakkan oleh umat Islam.


8-4 Apakah hendak dibuat dengan derma takziah yang diterima dari sahabat handai dan dari orang ramai. Kalau tidak dibelanjakan kepada kenduri memberi makan kepada orang ramai?

Jawapannya:
Sumbangan derma takziah yang diterima dari rakan kenalan, dari jiran tetangga dan dari orang ramai hendaklah dimanfaatkan pada pelbagai tempat yang selamat mendapat ganjaran pahala dan bukan dilaburkan kepada unsur-unsur mungkar, bid,ah dan makruh.

8-5 Ada juga yang mengatakan masalah ini adalah isu yang remeh-temeh, banyak lagi perkara yang penting perlu diselesaikan.

Jawapannya:
Apakah perbelanjaan yang melibatkan beratus malahan beribu ringit kepada yang makruh dan bid’ah itu dari perkara remeh temeh?.Usaha menyelamatkan masyarakat Islam dari terus terjerumus di dalam bid`ah yang dicela lagi tidak menguntungkan itu adalah ianya dari kerja sia-sia?. Bolehkah di katakan seorang mukmin yang bijak sedangkan beliau tidak dapat membezakan antara sunnah dengan bid’ah, antara sunat dengan makruh dan antara mungkar dengan maruf?

Ajaran Islam semuanya penting dan memberatkan timbangan di akhirat nanti atau dengan lain ibarat, diberi ganjaran pahala kepada semua amal soleh kecil dan besar, tidak dikatakan amal soleh segala perbuatan bid’ah, mungkar dan makruh. Oleh itu hendaklah kita memperbanyakkan amal soleh dengan mengikuti ajaran Islam semuanya tanpa menerima separuh menolak separuh yang lain


8- 6 Amalan adat istiadat ini sudah lama bertapak di tanah air kita, tidak sahaja diamalkan oleh orang awam malahanjuga turut dilakukan oleh orang yang bergelar tuan guru, ustaz, pak kiyai dan pak lebai. Kalaulah perkara itu bid’ah dan makruh tentulah tidak di buat oleh mereka itu.

Jawapannya:
Kita tidak boleh mengikut pak lebai dengan membuta tuli tanpa dalil dan hujah yang kuat, kerana pak kiyai dan ustaz tidak boleh ditentukan betul dan salah di atas kelakuan dan amalannya itu, tetapi yang menjadi ukuran ialah Kitab AlIah dan sunnah Nabi. Bila tindakan dan perbuatan mereka menepati dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi, menunjukkan mereka berada di dalam kebenaran dan perlu dicontohi oleh semua muslim dan muslimat. Manakala perbuatan mereka itu bercanggah dengan kitab Allah atau bercanggah dengan Sunnah NabiNya, mereka tidak lagi harus diikuti dan dicontohi walau betapa tinggi jawatan yang mereka sandang dan betapa mulia martabat yang mereka duduki.

Apakah tuan-tuan guru dan pak-pak kiyai yang sayangkan adat bid’ah yang makruh itu lebih alim dan lebih faqih dari Jarir bin Abdullah, Imam Nawawi, Ibnu Qudamah, Sayyid Abu Bakar dan lebih luas ilmunya dari Syaikh Daud Fataniy?


9- Cadangan

9- l Apabila berlaku suatu kematian di dalam keluarga umat Islam, hendaklah mereka mengelakkan dari terikut-ikut dengan adat kebiasaan yang bid’ah seperti orang ramai berhimpun pada keluarga si mati dan keluarga si mati memasak dan menjamu mereka samada sebelum atau selepas pengkebumian mayat.

9- 2 Hendaklah menjauhkan diri dari melakukan amalan yang dinamakan kaffarah dan wahsyah iaitu orang ramai berhimpun di sisi keluarga si mati dan keluarga si mati menjamu mereka pada malam pertama selepas pengebumian mayat, pada hari ketujuh, hari kedua puluh, hari ke empat puluh dan seumpamanya.

9- 3 Hentikan helah muslihat, takwil dan kias yang tidak sihat dengan pelbagai cara bagi mengekalkan amalan bid’ah selepas kematian.

9- 4 Segala jemputan kenduri makan selepas kematian hendaklah ditolak, kerana ianya bid’ah serta makruh kepada orang yang memakan dan yang menjemput. Sekiranya perbelanjaan makanan itu dari harta mahjur (orang yang ditahan dari mengurus hartanya) atau dari harta yang belum baligh atau dari harta si mati yang menanggung bebanan hutang, bukan lagi makruh malahan wajib ditolak panggilan itu kerana hukumnya sama-sama berkongsi yang haram pula.

9- 5 Diharap mendapat kerjasama umat Islam dari semua pihak, terutama dari bijak pandai Islam bagi menghapuskan unsur-unsur bid`ah itu.

9- 6 Dicadangkan segala derma takziah yang diterima oleh keluarga si mati di infaqkan pada sedekah-sedekah jariah untuk roh si mati, seperti untuk membina masjid, membangunkan sekolah¬-sekolah pendidikan Islam, pusat-pusat tahfiz A1-Quran dan sebagainya. Derma takziah juga boleh disumbangkan kepada segala jenis sabilillah. Kata Imam Nawawi telah ijma ulama bahawa sedekah orang hidup untuk orang yang telah mati, memberi faedah dan sampai pahala sedekah itu kepadanya. (23)

9-7 Dicadangkan kepada masyarakat Islam di semua peringkat agar dapat menukarkan bid’ah dengan al-sunnah dari Nabi dan sahabat, iaitu jiran, kaum kerabat yang jauh dan sahabat handai kepada ahli si mati memberi makan kepada mereka bukan keluarga si mati menjamu makan kepada orang ramai.

9-8 Diharap kepada ikhwan dan akhawat yang masih sayang kepada adat tradisi tersebut supaya meneliti dengan halus dalil-dalil dan hujah yang ditegaskan oleh ulamak muktabar melalui puluhan kitab karangan mereka.

9-9 Diharap setiap muslim dan muslimah menjadi ejen penyebaran dakwah mengenai maklumat ini kepada masyarakat kita dengan kesungguhan. Tugas ini menepati dengan tuntutan dari Hadith sahih yang di riwayat oleh Muslim maksudnya, “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan (khair) dia mendapat pahala seperti orang yang membuatnya”.


10- Penutup

Sukacita diulangkan lagi bahawa ketetapan hukum yang ditegaskan di dalam risalah ini bukan dari pendapat penyusun dan jauh sekali dari mengeluarkan fatwa, tetapi tulisan ini hanya pendedahan hukum dari Imam-Imam mazhab, kibar ulamak dan ulamak mujtahid mengenai bid’ah dan makruh apa yang dilakukan oleh ahli si mati selama ini selepas berlaku kematian.

Semoga dengan usaha yang sedikit ini di harap mendapat keredhaan Allah Taala dan moga-moga bermanfaat pada hari yang tidak berfaedah lagi segala harta dan anak pinak. Astaghfirullah A1-Azim, Wallah Alam.

Penyusun, A1 Faqir Ilallah, Hasan bin Ahmad, (bekas Pensyarah U.M)

Sunday, July 25, 2010

Barakah Syaaban


Salam,

13/7/2010 = 1 Sya’aban . Selamat menyambut bulan Sya’aban
Tahun ini Nisfu Sya’aban jatuh pada 27/7/2010 - Selasa (15 Sya’aban).

Di bawah arasy, Allah SWT telah mencipta sebuah laut yang amat luas - sejauh mata memandang. Di permukaan laut tersebut Allah telah mencipta satu Malaikat yang amat besar. Sayapnya di sebelah kanan sejauh mata memandang dan di sebelah kiri sejauh mata memandang.

Setiap kali umat islam berselawat ke atas junjungan besar Nabi Muhammad SAW pada bulan Syaaban maka malaikat tadi akan turun ke dalam laut tersebut dan akan naik semula sambil mengibas-ngibas sayap-sayap dan bulu-bulu di badannya. Maka akan berguguranlah berjuta juta titik air dari tubuh malaikat tersebut.

Sekiranya seratus kali umat islam berselawat maka seratus kalilah malaikat tadi akan turun dan naik kembali sambil mengibaskan sayap dan bulu pada tubuhnya.

Dari setiap titik air dari tubuh malaikat tadi akan tercipta satu mailaikat lain yang mana setiap satu malaikat yang tercipta akan memohon dari Allah SWT akan keampunan dosa orang yang berselawat ke atas Nabi Muhammad SAW pada bulan Syaaban sampai hari Qiamat.

Sekiranya sejuta titik air yang gugur dari tubuh malaikat tadi maka terciptalah sejuta malaikat yang memohon keampunan orang yang berselawat.

Oleh itu rajin rajinlah berselawat pada bulan Syaaban yang mulia ini kerana bulan Syaaban ini adalah bulan junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW. Semoga kita akan tergolong bersama orang yang mendapat keampunan dan rahmat Allah SWT.

Hari nisfu sya'aban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu maghrib, (15 Sya'aban bermula pada 14hb sya'aban sebaik sahaja masuk maghrib)

Berikut adalah antara amal ibadah di hari Nisfu Sya'aban:

1. Selepas solat maghrib (15 Sya'aban) Solat sunat nisfu sya'aban, 2 rakaat
Rakaat 1 : baca Al-Fatihah & surah Al-Qadar 1x
Rakaat 2 : baca Al-Fatihah & surah Al-Ikhlas 3x

2. Membaca Yasin 3x selepas solat Maghribnya (15 Sya'aban)

i) Selepas Yasin pertama : mohon dipanjangkan umur untuk beribadat kepada Allah
ii) Selepas Yasin kedua : mohon rezeki yang halal untuk beribadat kepada Allah
iii) Selepas Yasin ketiga : mohon ditetapkan iman dan Islam & mati di dalam iman & pohonlah segala yang baik.

Kemudian baca Istighfar 11x & selawat 11x Baca doa nisfu Sya'aban (ada didalam Yasin Majmuk)

3. Baca surah ikhlas 1000x

4. Berpuasa pada siangnya

Abul Khair Al Talaqaani r.a. mengira nama2 malam Nisfu Syaaban sebanyak 22.

Antaranya yg termasyhur adalah:

1. Malam Dimustajabkan Doa
2. Malam Pembahagian Takdir
3. Malam Rahmat
4. Malam Berkat
5. Malam Pengampunan (Taubat)
6. Malam Penebusan
7. Malam Syafaat
8. Malam Penulisan
9. Malam Keagungan dan Kemuliaan
10. Malam Rezeki
11. Malam Hari Raya Para Malaikat
12. Malam Penghidupan


Antara kelebihan bulan Sya'aban:

1. Sesiapa berpuasa sehari dalam bulan Sya'aban maka Allah haramkan tubuhnya dari api neraka dan dia akan menjadi teman kpd nabi Allah Yusof didalam syurga.

2. Riwayat dari Osman Bin Abi Al-As, Sabda Nabi Muhammad (saw) pada malam nisfu sya'aban setelah berlalu 1/3 malamnya, Allah turun ke langit dunia lalu berfirman : adakah orang-orang yang meminta maka Aku perkenankan permintannya, adakah orang yang meminta ampun maka aku ampunkannya, adakah orang yang bertaubat maka aku terima taubatnya dan diampunkan semua orang mukmin lelaki & perempuan , melainkan orang yang berzina atau orang yang berdendam marah hatinya kepada saudaranya.


Sebaik-baiknya minta ampun dengan ibubapa sebelum hari nisfu sya'aban kerana amalan kita akan terhalang dari diangkat ke langit sekiranya kita derhaka/berdosa dengan ibubapa kita.

Wallahua'alam

JIKA KITA INGINKN PERUBAHAN,JADILAH PERUBAHAN YG KITA INGINKAN,

BERANI MENCUBA,DAN BERANI BUAT PERUBAHAN..KERANA KEGAGALAN SEBENAR ADALAH KEGAGALAN MENCUBA... BILA DAH JOIN.. KENA BUAT... JANGAN BIARKAN PELUANG KEEMASAN!!! INI BERLALU BEGITU SAJA….

20 hari lagi

sedar x sedar sudah 20 hari berlalu... 20 hari apa?

emmm sila rujuk entri ini k. malas mo terangkan panjang lebar.


tadi dkat waktu maghrib kitorg p tempat ustaz lagi.. syukur alhamdulillah.. lenggang.. x pernah pulak mcm ne... mgkin sebab hari ahad.. esok semua org mo p keja soo mgkin diorg sda p td tghari. lagi pulak td hujan.. skrg ne di kk tiap2 petang msti hujan.. x pernah x hujan.. cuaca x menentu.. betullah ckp hubby.. mgkin kiamat sda menghampiri.. gempa d Mindanao, banjir d Iowa, Sulawesi... Korea Selatan mo perang ngn Korea Utara.. hmmm... cukup ka amal ku? (ehhh melarat pulak crita hihihi) sambung balik cerita... kbtulan masuk waktu maghrib hubby solat sekali ngn ustaz ku, cikgu khairi n salleh... panjang sungguh bacaan surah ustaz ku.. terlentok jugak aku menunggu d luar.. bila siap solat aku pun masuk... hehehhe hari ne ustaz bagi resipi baru lagi..

Jus mengkudu + ulam pucuk mengkudu.


Untuk apa? aku x pulak tanya..
esok ustaz suru bawa kunyit hidup + limau nipis.. resipi baru la lagi...
Ehhh.. lupa pulak mo announce.. (eseseh announce kunu)
berat ku sda turun.. walaupun x byk... sekarang ne berat suda 60kg.. turun 3 kg... setelah 20 hari mkn nasi + sayur sahaja.. heheheh syukur alhamdulillah.
Ertinya aku kna turunkan lagi 8 kg untuk dapat berat ideal ku 52kg sebelum 7 Oktober 2010. Mudah2n berjaya...
p/s : Sekarang ne kan bulan Syaaban n Pada isnin menjelang maghrib Malam Nisfu Syaaban.. Selamat Beramal :D

Monday, July 19, 2010

Kek Lapis Sarawak Sempena Aidilfitri

Sempena Aidilfitri yang akan datang Mdm.Tale nak promote

Kek Lapis Sarawak
(pure sarawakian famous kek lapis)

Sesiapa yang berminat boleh la buat tempahan kat Mdm. Tale yek..

atau
tinggalkan komen kat shoutbox
atau
tinggalkan comment kat entri ne pun boleh.

Harga yang tertera termasuk kos penghantaran.

Pembayaran secara tunai
Bank In akaun Maybank 110189005979(Ummi Khalelah Kula)

Sila buat tempahan sebelum:
11 Ogos 2010 (1 Ramadhan 1431H)

Tarikh mula penghantaran :
17 Ogos 2010 (7 Ramadhan 1431H)


Swiss Roll (Pelbagai Design)
RM25.00/roll


Tikar Mengkuang, Terabai, Spider, Pua Kumbu, Panah Asmara, Melon, Lingkaran Buluh & Ketupat
RM40.00 = 9' x 3' x 3'
RM103.00 = 9' x 9' x 3'











Untuk Kek Lapis di bawah ini pula harganya :-

RM25.00 = 8' x 2.6' x 2.3'
RM70.00 = 8' x 8' x 2.3'


Perisa Pandan + Tembikai

Perisa Masam Manis + Keladi


Perisa Mix Fruit

Perisa Strawberry + Prune

Perisa Rempah (Cinnamon)
Perisa Mix Fruit
Perisa Pudina + Vanilla
Perisa Coklat + Pandan + Biskut
Perisa Masam Manis
Perisa Coklat + Strawberry + Pandan
Perisa Coklat + Nestum
Perisa Coklat + Coklat Putih
Perisa Kopi
Perisa Horlick
Perisa Coklat + Walnut
Perisa Pandan
Perisa Pandan + Coklat + Oren
Perisa Coklat + Cheese
Perisa Coklat + Almond + Pandan
Perisa Cheese + Aiskrim Vanilla
Perisa Cheese
Perisa Blueberry
Perisa Oren + Strawberry + Pandan
Perisa Coklat + Vanilla
Perisa Strawberry + Coklat
Perisa Strawberry + Nestum + Coklat

Bagi Kek Lapis Sisik Ikan, Lapis India & Kek Hati Pari harganya:-
Sisik Ikan (Perisa Asam Manis)
RM38.00 = 8' x 2.6' x 2.3'
RM98.00 = 8' x 8' x 2.3'

Hati Pari ( Kismis + Prun)
kek ini tahan selama 1 tahun jika ditempatkan diluar peti sejuk didalam bekas kedap udara.
RM38.00 = 8' 2.6' x 2.3'
RM98.00 = 8' x 8' x 2.3'
Lapis India (Horlick + Nestum + Cadbury Coklat)
RM45.00 = 8' x 2.6' x 2.3'
RM115.00 = 8' x 8' x 2.3'
(ini kek kegemaran Mdm Tale hihiiihi)

Fruit Cake
RM40.00 = 8' x 2.6' x 2.3'
RM100 = 8' x 8' x 2.3'

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails